CIFOR-ICRAF Program Indonesia Program menjalankan berbagai kegiatan budidaya pertanian yang dirancang untuk mendukung ketahanan ekonomi, iklim, dan kelestarian lingkungan, khususnya di wilayah pedesaan Indonesia. Melalui kolaborasi bersama pemerintah provinsi, pemerintah daerah, Tim Kerja Desa, akademisi, lembaga swasta, dan masyarakat lokal, CIFOR-ICRAF mengembangkan pendekatan holistik yang berfokus pada pelatihan, pembelajaran dan pembinaan kapasitas petani. Praktik-praktik pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan petani dalam praktik budidaya yang ramah lingkungan, termasuk pengembangan sistem agroforestri yang dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kelestarian ekosistem lokal.
Berbagai pendekatan secara partisipatif dengan melibatkan para petani, penyuluh dan dinas setempat dilakukan dalam setiap tahap, dimulai dari tahap perencanaan hingga praktik pelaksanaan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa program yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan lokal, serta memberi ruang bagi petani untuk berkontribusi dalam pengambilan keputusan dan menciptakan rasa memiliki terhadap program yang dijalankan.
Lewat berbagai kegiatan budidaya pertanian dan agroforestri ini, CIFOR-ICRAF, pemerintah daerah, masyarakat lokal dan para mitra yang terlibat, berharap dapat menciptakan perubahan jangka panjang yang signifikan dalam sistem pertanian di Indonesia, yang lebih berkelanjutan, tangguh, mendukung kesejahteraan petani lokal dan lingkungan yang lestari.
Data yang dikumpulkan dalam survei rumah tangga terhadap petani jati Gunungkidul pada bulan Juni-September 2007 menunjukkan bahwa 80% petani menanam jati sejak lebih dari 10[…]
“Pagi ini kita sudah harus sepakat tentang kriterianya. Kalau tidak, akan mengalami kesulitan di lapangan,” tegas Gerhard di hadapan tim peneliti, pagi tanggal 8 September[…]
“Karena suplai kayu jati dari perkebunan besar atau hutan pemerintah tidak lagi sebanyak dulu, industri mebel mulai mencari tambahan suplai jati dari hutan rakyat,” papar[…]
‘Ngobrol’ yang direncanakan setengah jam, molor hingga satu setengah jam. Martua Sirait bercerita tentang Working Group – Tenure, sebuah kelompok kerja yang berkiprah dalam masalah[…]
Walaupun belum resmi terbentuk karena masih menunggu pengesahan lewat SK Bupati, Forum SIG (Sistem Informasi Geografis) Aceh Barat sudah memiliki kapasitas yang memadai untuk memulai[…]
“Pelatihan itu sangat berguna bagi saya karena mengajarkan bagaimana memanfaatkan hasil-hasil penelitian dalam pembuatan kebijakan,” ungkap Yongky Indrajaya, peneliti dari Balai Penelitian Kehutanan Ciamis, lembaga[…]
“Jalannya yang lurus Mat. Jangan belok-belok,” teriak Taryono kepada Rachmat yang sedang menarik ujung pita ukur. Rachmat menoleh dan tersenyum. Rupanya dia berjalan melenceng terlalu[…]
“Keduanya harus serentak,” jawab Haji Udi, petani dari Desa Parakan Muncang, Kecamatan Nanggung, Bogor, ketika ditanya mana yang lebih dahulu dikerjakan, bercocok tanam ataukah memastikan[…]