James Roshetko: Peneliti yang betah turun ke desa
Di kalangan agroforestri, dia James Roshetko, saintis berpengalaman yang karyanya sudah dikutip ribuan kali. Di lingkungan CIFOR-ICRAF, dia adalah “Pak Jim” peneliti yang ramah dan suka bercanda. Sementara di desa, ada panggilan lain untuknya: “bule masuk kampung” — dan ia tidak keberatan dipanggil begitu.
Pertama kali bekerja bersama ICRAF pada 1997, Pak Jim resmi pensiun pada tahun 2026 di usia 64 tahun. Kiprah Agroforestri mengajak Pak Jim merefleksikan pengalamannya selama berkarya di ICRAF, termasuk satu kesempatan ketika dia dikira orang “Cina”.
James Roshetko (Jim): Saya tidak memikirkannya seperti itu … Saya suka pekerjaan saya, tapi juga, ketika saya pertama kali datang, salah satu tujuan kami adalah meningkatkan kapasitas periset Indonesia. Itu sudah tercapai sekarang.
Dulu lebih dari setengah staf di ICRAF adalah pendatang. Sekarang, kapasitas lulusan universitas sangat bagus; dulu tidak begitu. ICRAF dan organisasi lainnya, nasional maupun internasional, banyak membantu dalam pelatihan dan peningkatan kapasitas.
Jim: Saya merasa begitu. Tentu bukan saya sendirian yang melakukannya. Saya hanya bagian dari proses. Tapi saya senang bisa berkontribusi.
Jim: Saat di lapangan, saya selalu bicara bahasa Indonesia kecuali pada tim. Kadang-kadang saya bicara bahasa Inggris dan tim menerjemahkan.
Di desa, ini gampang. Yang susah justru di Jakarta dan Bogor, karena orang-orangnya sangat terdidik. Bahasa Indonesia saya agak canggung, jadi saya lebih sering pakai bahasa Inggris.
Yang lucu, di beberapa tempat, bahasa Indonesia saya justru sama fasihnya dengan masyarakat setempat. Di beberapa desa di Sulawesi Selatan, mereka mengerti bahasa Indonesia tapi lebih suka bahasa Bugis atau Makassar, jadi seseorang akan menerjemahkannya. Sekarang, banyak peneliti Indonesia yang sangat terdidik dan berpengalaman. Pekerjaan lapangan lebih cepat kalau mereka yang turun.
Jim: Masyarakat desa sering menyebut saya “bule masuk kampung”; ini lucu dan selalu jadi bahan candaan.
Di Sulawesi Selatan, banyak orang mengira saya orang Cina. Mereka tahu ada kelompok orang dari luar negeri yang disebut “Cina” tapi tidak tahu seperti apa rupanya. Suatu waktu saat sedang rapat desa, tiba-tiba ada yang bertanya, “Dia orang Cina, ya?” Lama-lama kami capek menjelaskan kalau saya ini orang Amerika. Jadi kami iyakan saja supaya rapat bisa lanjut. Kadang Sonya (Direktur CIFOR-ICRAF Asia -red.) atau kolega lain yang memang keturunan Tionghoa ada di situ, tapi mereka bilang, “Ah mereka bukan orang Cina, mereka orang Indonesia dari Jakarta.” Tapi mereka tunjuk saya dan bilang sayalah yang orang Cina.
Jim: Ya. Waktu itu banyak investasi dari Tiongkok. Orang punya gambaran tentang “orang Cina”, tapi tidak tahu wujudnya seperti apa. Jadi saya sering dianggap salah satu dari mereka.
Jim: Tinggal setahun lagi di Indonesia, lalu kembali ke Amerika Serikat. Mulai Januari saya akan menjadi senior research fellow. Masih terhubung, tetap kolaborasi menulis paper dan buletin.
Jim: Saya sangat terkesan dengan generasi muda di sini. Seandainya dulu saya punya kapasitas seperti mereka. Pesan saya adalah cari bidang yang benar-benar disukai – entah itu agroforestri, penghidupan, atau lanskap berkelanjutan – lalu tekuni sepenuh hati. Kalau ingin lanjut pendidikan tinggi, lakukan saja. Jangan ragu. Ada banyak organisasi yang bisa mendukung kok. Saya sendiri menyelesaikan gelar sambil bekerja.
Semakin banyak yang kita berikan pada pekerjaan, semakin banyak juga yang kita dapat. Selama 29 tahun, saya merasa memberi banyak, dan menerima sama banyaknya. Sangat berharga. [PA]
“Semakin banyak yang kita berikan pada pekerjaan, semakin banyak juga yang kita dapat. Selama 29 tahun, saya merasa memberi banyak, dan menerima sama banyaknya.”




No responses yet