Bila Bohong, Itu Urusan Mereka: Menelusuri mekanisme pemasaran sayur katuk

Oleh: Lia Dahlia

Hari sudah menjelang sore ketika Pak Kastolani datang. Mobil bak terbuka yang ditumpanginya muncul tertatih-tatih karena keberatan muatan. Iwan, Lia, Arif, dan Denta—empat peneliti dari World Agroforestry Centre (ICRAF)—telah menunggu di dekat Terminal Bubulak.

Pak Kastolani, lelaki gempal pedagang pengumpul sayur-mayur dari Ciampea ini, telah menjadi ‘sahabat’ mereka sejak mulai meneliti sayuran lokal di Kecamatan Nanggung, Bogor, Jawa Barat.

Kemitraan Penelitian Strategis

Bekerjasama dengan NCSU SANREM, ICRAF sedang mempelajari rantai pemasaran sayur katuk dan kucai dalam penelitian bertajuk “Sustainable Vegetable Production under Agroforestry System” yang dibiayai oleh USAID.

Sore itu, Pak Kastolani berbaik hati mengajak para peneliti ICRAF untuk mengikuti perjalanannya memasarkan sayuran. Tujuannya adalah Pasar Cengkareng, sebuah sentra perdagangan sayuran untuk kawasan Tangerang dan Jakarta Barat.

“Kita lewat Parung saja ya. Nanti kita belok kiri di Parung, masuk BSD terus ke Tangerang. Kalau lewat tol biayanya akan tambah mahal,” ujar Pak Kastolani menjelaskan rute perjalanannya.

jelas Pak Kastolani sembari memberi isyarat agar mobil yang ditumpangi peneliti ICRAF segera mengikuti mobil bak terbuka sewaannya.

Berkendaraan di belakang mobil pengangkut sayuran menjadi pengalaman yang sangat menarik. Iwan dan teman-temannya menjadi paham resiko membawa muatan sayuran dari Ciampea ke Jakarta. Bukan hanya karena udara panas yang membuat sayuran layu, tapi karena sepanjang perjalanan mobil bak terbuka yang penuh muatan itu menjadi sasaran empuk pungli (pungutan liar).

Kalau sedang apes Pak Kastolani harus merogoh koceknya lebih dalam untuk membayar petugas jalan raya atau polisi yang menyetop kendaraannya dengan dalih memeriksa surat-surat. “Nasib wong cilik, sudah kecil makin kecil karena pungutan liar,” keluh Pak Kastolani.

Info Box

Berbagai pungli di sepanjang perjalanan dari Bogor ke Cengkareng mengharuskan ia mengeluarkan biaya lebih banyak di luar biaya sewa kendaraan sebesar Rp 300.000 dan biaya pemanenan dan pengangkutan sekitar Rp 100.000-200.000.

Selain modal materi, Pak Kastolani juga harus bekerja keras. Setiap hari ia memulai aktifitas pada pukul 6 pagi: mengumpulkan sayuran, mengikat, dan membawanya ke pasar. Ia biasa pulang larut malam, bahkan sering menjelang pagi. Tetapi sepertinya Pak Kastolani tetap enjoy dengan pekerjaannya.

Sekitar jam 7 malam mereka sampai di Pasar Cengkareng. Tak banyak pedagang yang terlihat. Entah karena kedatangan yang tidak tepat waktu atau keramaian pasar hanya seperti itu. Sebelumnya, Iwan dan teman-temannya mengira Pasar Cengkareng adalah pasar perkulakan sayur yang besar, ramai dan sibuk seperti pasar Ramayana Bogor sebelum berubah menjadi mall besar. Kenyataannya pasar itu hanyalah sebuah lokasi kecil yang terdiri dari beberapa los dan lapak-lapak.

Interaksi dengan Pedagang Pengecer

Iwan, Lia, Arif, dan Denta segera berbaur dengan para pedagang pengecer yang sedang sibuk mengambil sayuran yang baru diturunkan dari mobil. Bu Darti, salah seorang penjual pengecer di Pasar Cengkareng bercerita kepada Iwan bahwa harga katuk di pasar Cengkareng di tingkat pengecer adalah Rp 5.000 per gabung (1 gabung = ±0,7 kg), sementara kucai dipatok seharga Rp 6.000. “Keuntungan saya dari satu gabung katuk, cuma Rp 1.000,” kata Bu Darti.

Informasi yang sama diperoleh Iwan dari Ibu Masri. Wanita setengah baya ini menuturkan jika ia berusaha mengambil keuntungan lebih dari katuk, alih-alih untung malah rugi karena pembeli akan langsung mengganti katuk dengan bayam atau kangkung yang harganya bisa lebih murah. Setiap hari Bu Masri mengambil 8-10 gabung katuk dan kucai dari Pak Dori, juga pedagang pengumpul seperti Pak Kastolani, dan langsung menjualnya secara eceran. Jika masih ada sayuran yang tersisa, Bu Masri akan mengirimkannya ke Pasar Ciputat tempat salah satu anaknya berdagang sayuran.

Modal Sosial: Kepercayaan sebagai Kunci Usaha

Mekanisme jual beli sayuran di Pasar Cengkareng cukup unik. Para pedagang pengecer mengambil sendiri sayuran yang diperlukan, memasukkannya ke dalam gerobak, dan membawanya ke lapak masing-masing untuk dijual eceran. Kepada Pak Dori, mereka cukup melaporkan jumlah sayuran yang diambil dan membayar bila sayuran sudah habis terjual.

“Mengapa Pak Dori tidak mengawasi para pedagang yang mengambil sayuran?” tanya Lia. “Saya percaya sama mereka. Kalaupun ada yang bohong, itu urusan mereka,” jawab Pak Dori singkat. Menurut Pak Dori, kepercayaan dan kelonggaran yang diberikan kepara pedagang pengecer langganannya justru menimbulkan hubungan timbal balik yang kuat. “Itu kunci usaha saya tetap berjalan hingga sekarang.”

Stabilitas Pasokan dan Harga

Penetapan harga sayuran katuk di Pasar Cengkareng ternyata dilakukan oleh para pemain besar seperti Pak Dori dan Pak Kastolani. Menurut mereka, sayuran katuk yang posisinya bisa dengan mudah diganti sayuran lain harus selalu dijaga pasokannya sehingga harga jualnya bisa stabil sepanjang tahun. Agar harga jual tetap pada kisaran Rp 5.000-6.000 per gabung, Pak Kastolani membatasi diri membawa sekitar 200-300 gabung katuk dari Ciampea walaupun pasokan kadang berlimpah.

Malam mulai larut. Iwan, Lia, Arif, dan Denta pamit kepada Pak Dori dan para pedagang yang ada di sekitar parkiran mobil. Pak Kastolani masih akan tinggal di pasar, menunggu setoran pedagang eceran langganannya sebelum pulang.

CATEGORIES:

Artikel

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *