Erosi berkurang, ternak pun kenyang. Upaya konservasi tanah melalui agroforestri sawit-ternak di Labuhanbatu

Oleh: Fitri Marulani

Dua Petani Tewas Tertimbun Longsor di Labura, demikian laporan SindoNews, pada 27 Desember 2016. Kendatipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menerapkan praktik kelapa sawit yang berkelanjutan, aspek lingkungan masih menjadi topik yang menarik. Bencana longsor yang terjadi di lahan-lahan perkebunan sawit merupakan salah satu isu lingkungan yang penting untuk dibahas, termasuk di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara.

Tanah sangat penting bagi kehidupan semua makhluk hidup, termasuk tanaman kelapa sawit. Agar kelapa sawit bisa tumbuh dengan baik, mereka membutuhkan tanah yang subur dan sehat. Bagian tanah yang paling subur biasanya terletak di permukaan, yang disebut lapisan tanah atas (Topsoil). Namun, saat ini lapisan tanah atas banyak yang rusak dan menipis. Lahan pertanian yang dulu memiliki lapisan topsoil setebal 30 cm, kini menyusut kurang dari itu. Salah satu penyebab kerusakan ini adalah erosi. Erosi mengikis tanah lapisan atas, membawa dan mengendapkannya ke hilir, hingga menyebabkan pendangkalan dan penyempitan aliran sungai.

Foto 1, 2, dan 3. Plot erosi pada lahan miring tanpa tutupan lahan, kelapa sawit kombinasi dengan pakan ternak, dan monokultur kelapa sawit.
Melindungi tanah dari erosi, perlu bukti

Kebun sawit yang saat ini ada di Labuhanbatu, tidak selalu terletak di lahan-lahan yang landai, banyak juga yang berlokasi di lahan miring. Variasi kelerengan ini memiliki resiko erosi yang bermacam-macam pula. Saat ini, sudah banyak upaya konservasi tanah yang dilakukan di tingkat kebun untuk mengurangi resiko erosi tersebut, diantaranya dengan menumpuk pelepah kering, menanam kacang penutup tanah (legume cover crops/LCC), dan sebagainya. Tetapi, sejauh mana itu membantu?

CIFOR-ICRAF melalui proyek BIPOSC (Biodiverse and Inclusive Palm Oil Supply Chain) yang didukung oleh Livelihood Venture berkolaborasi dengan SNV Indonesia dan Musim Mas, telah membangun plot pengamatan di tingkat kebun untuk mengukur erosi dan sedimentasi. Penelitian ini menggunakan metode pengukuran langsung, yaitu plot erosi dan pipa sedimentasi. Dilengkapi dengan pengamatan dan pengukuran faktor yang mempengaruhinya seperti kemiringan lahan, tutupan lahan, pengelolaan lahan dan curah hujan. . Pengukuran dilakukan pada petak-petak yang dirancang untuk mengamati perubahan yang terjadi pada tanah, serta pada pipa-pipa yang mengalirkan tanah-tanah yang mengendap akibat limpasan dari daerah yang lebih tinggi.

Penelitian ini dilakukan secara partisipatif. Proses pengambilan data pada plot-plot erosi maupun pipa sedimentasi selalu melibatkan fasilitator CIFOR-ICRAF melalui proyek BIPOSC (Biodiverse and Inclusive Palm Oil Supply Chain) yang didukung oleh Livelihood Venture berkolaborasi dengan SNV Indonesia dan Musim Mas, telah membangun plot pengamatan di tingkat kebun untuk mengukur erosi dan sedimentasi. Penelitian ini menggunakan metode pengukuran langsung, yaitu plot erosi dan pipa sedimentasi. Dilengkapi dengan pengamatan dan pengukuran faktor yang mempengaruhinya seperti kemiringan lahan, tutupan lahan, pengelolaan lahan, dan curah hujan. Pengukuran dilakukan pada petak-petak yang dirancang untuk mengamati perubahan yang terjadi pada tanah, serta pada pipa-pipa yang mengalirkan tanah-tanah yang mengendap akibat limpasan dari daerah yang lebih tinggi.

Penelitian ini dilakukan secara partisipatif. Proses pengambilan data pada plot-plot erosi maupun pipa sedimentasi selalu melibatkan fasilitator desa yang sudah dibekali pengetahuan melalui pelatihan. Fasilitator desa dilatih untuk mempelajari proses erosi, mengambil data curah hujan, mengamati kondisi permukaan tanah, melakukan perhitungan, serta mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi erosi.

desa yang sudah dibekali pengetahuan melalui pelatihan. Fasilitator desa dilatih untuk mempelajari proses erosi, mengambil data curah hujan, mengamati kondisi permukaan tanah, melakukan perhitungan, serta mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi erosi.

Pada mulanya, sebagian fasilitator desa belum menyadari peran tanaman penutup untuk mengurangi laju erosi. Namun, setelah kegiatan pelatihan dan pengamatan langsung di lapangan, mereka mulai memahami esensinya. Penelitian yang dilakukan tidak semata-mata untuk kepentingan ilmiah, tetapi juga sebagai wahana pembelajaran bersama sehingga meningkatkan pemahaman fasilitator desa yang mendampingi para petani swadaya.

Jika menguntungkan, mengapa tidak?

Misran, salah satu petani anggota Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Labuhan Batu (APSKSLB) di Dusun Tebangan, Desa Kampung Baru, berkontribusi dalam penelitian dengan menjadikan kebunnya sebagai salah satu lokasi pengamatan. Ia adalah salah satu pemilik plot percontohan agroforestri sawit di dalam proyek BIPOSC, yang memadupadankan kelapa sawit dengan rumput ternak pakchong, mahoni, dan pinang sebagai tanaman pendamping. Misran juga ikut serta dalam pengamatan erosi dan sedimentasi.

Selama pengamatan berlangsung, jumlah tanah sedimen yang tertampung dalam plot erosi di kebunnya sangat kecil, bahkan hampir tidak teramati. Berbeda dengan plot erosi lainnya di lahan terbuka, hasil ini memperlihatkan dampak positif dari sistem agroforestri yang diterapkan di kebunnya. Kombinasi tanaman di lahan Misran memberikan perlindungan terhadap tanah, sehingga laju erosi sangat kecil dan menjaga topsoil-nya tidak tergerus. Menggunakan tanaman penutup tanah untuk pelindung topsoil memang bukan pilihan yang umum dipraktikkan. Untuk meningkatkan minat petani, perlu ada manfaat langsung yang terlihat di lahan mereka.

”Saya menanam rumput ternak di lahan untuk melindungi tanah. Saya [merasa] senang karena tanah di kebun saya terjaga. Selain itu, sapi [peliharaan] saya pun ikut kenyang”, ujar Misran dengan gembira.

Biasanya, sapi-sapi peliharaan digembalakan untuk mencari sendiri rumput-rumput liar di kebun kelapa sawit. Namun, setelah menanam rumput pakchong sebagai pakan, Pak Misran hanya tinggal memangkas rumput di kebunnya, kemudian mengangkut dan memberikannya ke sapi-sapi yang sudah dikandangkan.

Melindungi tanah, memanen manfaat

Melalui pengamatan ini, fasilitator desa dan petani swadaya diharapkan mampu memahami pentingnya solusi berbasis alam untuk mengatasi masalah erosi tanah di kebun kelapa sawit. Beragam tanaman yang menutupi permukaan tanah memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Memadupadankan tanaman sawit di kebun dengan berbagai jenis tanaman, baik yang menutup permukaan tanah maupun menaungi tanah, dapat menjadi pilihan untuk upaya konservasi tanah dan air.

Tanaman dengan perakaran yang dalam berperan sebagai penyimpan dan pemompa air dalam tanah. Sementara tanaman dengan perakaran dangkal di permukaan tanah berperan baik dalam mengikat tanah. Selain itu, tanaman bertajuk mampu mengurangi hantaman air hujan ke permukaan tanah, sehingga dapat mengurangi resiko perubahan struktur tanah.

Sistem agroforestri, dalam hal ini agroforestri sawit-ternak, memberikan pilihan bagi petani swadaya untuk mengambil manfaat, baik secara lingkungan maupun sosial ekonomi. Dari aspek lingkungan, kombinasi tanaman penutup tanah dan pelindung membantu menjaga kesehatan dan kesuburan tanah, membantu penyerapan air hujan dalam tanah, serta menjadi tempat penghidupan bagi hewan dan tumbuhan liar. Manfaat secara sosial dan ekonomi juga dirasakan dengan menjaga keberagaman sumber penghidupan berbasis pertanian dan berbagi peran anggota keluarga dalam berkebun. Sekali jalan, dua tiga tujuan dapat tercapai.

CATEGORIES:

Artikel

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pencarian

Bagikan