Oleh: Tikah Atikah, Syah Ali Achmad, dan Sri Wahyuni Wero
Wahyudi, pemuda asal Desa Terpedo Jaya, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, pernah merantau dan bekerja sebagai karyawan di salah satu hotel di Kota Makassar. Rutinitas pekerjaannya yang padat membuatnya merasa waktu dan peluang masa depannya tergerus. Kekhawatiran tersebut mendorong Wahyudi untuk mulai memikirkan cara agar dapat hidup mandiri.
Bersamaan dengan kondisi ekonomi yang memburuk akibat gelombang COVID-19 yang melanda sejumlah bisnis jasa di perkotaan, maka dia mencoba untuk kembali ke kampungnya. Saat kembali ke desanya, Wahyudi yang lahir di tahun 1997 menyadari bahwa kebun kakao miliknya dengan luas 75 are telah lama tidak terurus. Berkebun memang tidak menjadi minat utamanya karena ia merasa kurang memahami cara berkebun dan berpikir tentang penghasilan dari kebun juga membuatnya bimbang. Kemudian, ia didatangi oleh Pak Mirwan (38 tahun), kerabat dekatnya yang telah lebih dulu terjun ke dunia perkebunan kakao setelah sebelumnya bekerja sebagai tenaga sukarela di salah satu instansi. Namun, dalam tiga tahun terakhir, ia menekuni perkebunan sambil menjalankan usaha pembuatan mebel, yang membuat kehidupannya lebih baik. Selain karena berkebun adalah hobinya, ia juga dapat bekerja dengan lebih bebas dan mandiri. Katanya “jalan yang mudah pasti lurus, jalan yang menantang pasti berbelok, setelah berbelok pasti akan lurus juga. Begitulah kehidupan”, pungkas Mirwan kepada Wahyudi selaku ketua kelompok tani Mattaro Senge yang berarti “Menyimpan Kenangan”.
Motivasi Wahyudi berubah ketika ia diajak untuk bergabung dengan kelompok tani dan mengikuti berbagai kegiatan kelompok tani di Desa. Perjumpaannya dengan SFITAL diawali tahun 2021, saat pelatihan Pertanian Berkelanjutan dengan Agroforestri Kakao pada program Sistem Pertanian Berkelanjutan di Lanskap Tropis Asia (SFITAL) di Kabupaten Luwu Utara. Program ini dilaksanakan oleh CIFOR-ICRAF bersama MARS dan Rainforest Alliance sebagai mitra utama sejak tahun 2020, yang didanai oleh The International Fund for Agricultural Development (IFAD). Program ini memberikan harapan baru baginya karena membuka peluang setelah ia mengikuti praktik Farming as a Business atau Kebun sebagai Usaha Bisnis, yang dilanjutkan dengan Praktik Agroforestri. Kebun yang dikelola dengan baik, penuh dengan tanaman yang produktif, memberikan peluang pendapatan yang jauh lebih besar. Wahyudi bersama dengan anggota lainnya terlibat dalam kegiatan di kebun dengan mempraktikkan cara budidaya kakao yang baik hingga pembuatan pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanaman dan tanah.

Saat Wahyudi telah memutuskan untuk berkebun dan menetap di desa, ia menyadari agroforestri adalah praktik berkebun yang baik karena kakao membutuhkan naungan, dan jika kanopi terlalu terbuka dapat mengakibatkan banyaknya kakao yang kering, sementara itu jika hujan kakao juga bisa terlindungi. Tanaman seperti durian, kelapa, pisang, dan kayu gamal sangat cocok dengan kakao, karena selain sebagai pelindung juga bisa dikonsumsi dan dijual buahnya, sehingga dengan menerapkan agroforestri semua pasti untung.
Selain kakao, Wahyudi juga menanam berbagai tanaman buah, di antaranya pisang, durian, aren, kedondong, nangka, serta tanaman hijauan pakan ternak, yaitu gamal. Dalam jangka waktu dua tahun, ia mampu memanen 70 kg kakao kering dengan harga tertinggi mencapai Rp120.000 per kilogram sejak pohon pertama kali berbuah. Ia berharap hasil panen musim berikutnya akan lebih banyak seiring dengan semakin produktifnya tanaman. Selain kakao, ia juga memperoleh hasil dari beberapa tanaman buah, seperti pisang yang dijual dengan harga Rp30.000 per tandan, dengan total panen 60 tandan dalam setahun. Sementara itu, hasil panen dari durian, kedondong, dan aren digunakan untuk konsumsi pribadi.
Wahyudi tidak sekadar menanam kakao. Di antara deretan pohon kakao, kini tumbuh berbagai tanaman buah-buahan. Ia mengembangkan sistem agroforestri yang cerdas di kebunnya. Kekhawatirannya akan curah hujan tinggi membuatnya berinovasi dengan menggali drainase agar tanaman tidak tergenang karena musim hujan yang kini tidak menentu. Melalui berkebun ia bisa mengembangkan pengetahuannya dalam budidaya berbagai tanaman buah selain tanaman kakao di kebunnya. Wahyudi juga berharap di masa depan ia dapat menanam tanaman hortikultura seperti cabai atau semangka di kebunnya.

Bagi Wahyudi, menerapkan sistem agroforestri sangat menguntungkan, karena tetap bisa mendapatkan hasil panen dari komoditas lain selain kakao. Keputusannya bulat untuk menjadikan kebun kakaonya sebagai peluang untuk memulai kembali, tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya. Pada tahun 2024 ini, kebahagiaan Wahyudi semakin lengkap karena telah menikah dan dapat membangun mimpi bersama untuk masa depan bersama istrinya.
No responses yet