Meningkatkan nilai guna lahan melalui agroforestri sawit, solusi untuk keberlanjutan

Oleh: Fitri Marulani dan Subekti Rahayu

”Sawit [mulai ada yang] mati. Saya sisip [di sawit yang mati itu] dengan sayuran untuk sehari-hari dan ternak sapi untuk tabungan”, ungkap Sungkono, petani swadaya kelapa sawit Labuhanbatu, Sumatera Utara.

Kelapa sawit merupakan komoditi andalan sebagian besar petani swadaya di Labuhanbatu sejak puluhan tahun silam. Bertani sawit memang menguntungkan, karena pabrik-pabrik kelapa sawit yang beroperasi di Labuhanbatu dan sekitarnya memberikan transparansi harga tandan buah segar (TBS) bagi agen/pengepul ataupun petani. Akses informasi budidaya kelapa sawit juga cukup mudah didapat, serta jumlah hari kerja di kebun sawit yang tidak terlalu intensif dibandingkan tanaman perkebunan lainnya menjadi nilai tambah tersendiri bagi petani swadaya sehingga kelapa sawit masih menjadi sumber pendapatan utama bagi masyarakat Labuhan Batu.

Ganoderma si musuh utama

Kelapa sawit sudah ada di Labuhanbatu sejak 30 tahunan yang lalu, sehingga mayoritas sawit saat ini sudah masuk ke masa peremajaan. Namun masih banyak kebun kelapa sawit yang belum diremajakan, karena berbagai alasan, sehingga batang-batang nya sudah menua. Alih-alih melakukan peremajaan total, petani lebih memilih melakukan tanam sisip (underplanting) diantara sawit-sawit yang tua. Selain itu, penyisipan juga dilakukan pada kelapa sawit yang terserang Ganoderma. ‘Komes’ mereka menyebutnya, adalah musuh utama yang dihadapi petani sawit swadaya di Labuhanbatu.

Ganoderma merupakan kelompok jamur yang hidup di tanah dan memiliki sifat parasit bagi tanaman, sehingga menyebabkan busuk akar dan batang. Kerusakan ini perlahan-lahan menganggu kelangsungan hidup hingga tanamannya mati pelan-pelan. Satu persatu batang yang mati ini secara perlahan mengakibatkan kerugian ekonomi bagi petani, karena berkurangnya jumlah produksi TBS di lahan kelapa sawit mereka. Akibatnya, pendapatan petani pun menjadi jauh berkurang.

Saat satu batang terkena komes, batang-batang yang lain juga terancam. Solusi terbaik adalah dengan meremajakan seluruh kebunnya, mengistirahatkan lahannya hingga jamurnya habis, lalu menggantinya dengan tanaman baru yang lebih tahan terhadap penyakit. Tetapi, langkah ini membutuhkan biaya yang mahal, sehingga tidak semua petani mampu melakukannya.

Untuk menyiasatinya, petani melakukan tanam sisip dengan bibit sawit baru. Namun, dalam beberapa tahun kemudian, sawit baru yang disisipkan seringkali mati karena terserang Ganoderma lagi. “Pusing kali memikirkannya”, begitu kira-kira keresahan petani yang kerap terdengar di sana.

Agroforestri sawit sebagai alternatif

Sungkono, salah satu petani swadaya kelapa sawit di Desa Tebing Linggahara, Labuhanbatu, menghadapi hal serupa. Ia harus memutar otak karena batang sawitnya yang mati semakin banyak, menciptakan lahan kosong yang cukup luas. Ia kemudian menyisip kelapa sawit yang mati dengan bibit sawit yang baru. Karena masih menyisakan ruang dan pencahayaan yang cukup, Sungkono juga menanam tanaman semusim di sekitarnya, seperti mentimun, cabai, dan kacang panjang secara bergiliran.

“Sambil menunggu sawit sisipannya besar, saya bisa menambal penghasilan yang hilang dari tanaman-tanaman [semusim] ini”, begitu penjelasannya. Tanaman semusim dipilih Sungkono karena dianggap tidak akan mengganggu tanaman kelapa sawit yang disisip.

Selain itu, Sungkono juga menanam rumput odot dan pisang, serta menggembala ternak sapi di lahan seluas 0,54 ha miliknya. Berbagai jenis komoditi ia pilih untuk memaksimalkan hasil produksi dan nilai guna lahannya yang terbatas melalui hasil panen yang beragam.

Tanaman semusim dapat dipanen harian, pisang dipanen bulanan, serta rumput odot dipanen untuk tambahan pakan ternak miliknya. Sapi yang ia pelihara ditujukan sebagai tabungan untuk dana pendidikan dan kebutuhan besar. Kotoran sapi juga ia manfaatkan sebagai bahan pupuk organik.

Foto 1 dan 2. Pelatihan agroforestri sawit di Labuhanbatu dan buah kakao di kebun Bapak H. Mu’in

Secara tidak langsung, Sungkono sudah menerapkan prinsip agroforestri, yaitu memadupadankan berbagai jenis tanaman, baik semusim maupun tahunan, di dalam satu lahan.

Di desa yang sama, H. Mu’in Rambe juga menerapkan prinsip serupa. Ia menyisipkan tanaman kakao di antara batang-batang kelapa sawit miliknya. Kelapa sawit di kebun miliknya ditanam sejak tahun 1990, memiliki jarak tanam 9 m x 9 m dan 9 m x 10 m, lebih lebar daripada jarak pada umumnya, sehingga menyisakan ruang kosong diantara batang-batang sawit yan ada. ‘Pak Haji’, biasa ia dipanggil, memutuskan untuk memanfaatkan ruang kosong ini dengan menanam kakao sejak sepuluh tahun yang lalu. Kakao dipilih karena harga jual biji keringnya cukup tinggi dan relatif stabil. Bisa dibilang, kebun milik Pak Haji ini adalah contoh dari agroforestri sawit-kakao.

Setelah kakaonya berproduksi, Pak Haji merasakan manfaat langsung bahwa menanami kakao diantara ruang kosong kelapa sawitnya, dapat menambah penghasilan. Hal yang sama ia terapkan pada pokok-pokok kelapa sawit yang mati akibat Ganoderma di lahan lainnya dengan menyisipkan kakao di sampingnya. Sekarang, penghasilan dari kebun yang ia miliki bukan hanya berasal dari produk kelapa sawit, tetapi juga dari kakao.

Menjanjikan, tetapi belum optimal

Pak Sungkono dan Pak Haji hanyalah beberapa contoh petani swadaya di Labuhanbatu yang menerapkan agroforestri kelapa sawit dengan memadupadankan berbagai jenis tanaman. Masih banyak contoh lainnya, tetapi sebagian besar mengalami berbagai kendala. Selain tantangan dalam pemilihan jenis tanaman, hal penting lainnya yang masih menjadi hambatan petani adalah pengaturan pola dan jarak tanam yang belum optimum.

Foto 3, 4, dan 5. Kebun Demoplot AF Sawit, Ganoderma pada pangkal batang kelapa sawit menyebabkan busuk akar dan batang, dan Kebun agroforestri kelapa sawit dengan kakao Bapak H. Mu’in.

CIFOR-ICRAF melalui proyek BIPOSC (Biodiverse and Inclusive Palm Oil Supply Chain) yang didanai oleh the Livelihoods Venture, berkolaborasi dengan SNV Indonesia dan Musim Mas, menawarkan beberapa model agroforestri sawit yang relevan dengan kondisi di Labuhan Batu. Model-model ini dirancang secara partisipatif, melalui berbagai tahap pengumpulan data awal, diskusi, dan interaksi dengan berbagai pihak.

Pilihan untuk sawit yang berkelanjutan

Tidak mudah meyakinkan petani untuk beralih pada agroforestri sawit. Pilihan jenis tanaman dan padupadannya menjadi faktor yang paling penting. Berbagai pendekatan dilakukan untuk memperoleh modelmodel yang tidak hanya relevan terhadap situasi dan kondisi di Labuhanbatu, tetapi juga diminati oleh petani. Jenis-jenis tanaman seperti durian, mahoni, pinang, dukuh, alpukat, pisang, rumput pakan, serta tanaman semusim seperti kacang panjang menjadi pilihan-pilihan yang diminati oleh petani swadaya. Selain itu, rangkaian pelatihan agroforestri kelapa sawit dan pembangunan kebun demoplot juga dilakukan untuk meningkatkan kapasitas petani mengenai budidaya agroforestri kelapa sawit secara berkelanjutan.

Secara partisipatif, model-model tersebut diperkenalkan kepada petani swadaya dan diujicobakan ke dalam plot-plot percontohan (demplot) milik petani anggota Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Labuhanbatu (APSKSLB). Dalam tiga tahun ini telah dibangun beberapa demplot dengan total luas 20 ha. Ditargetkan agroforestri kelapa sawit ini terus meluas hingga 125 ha di tahun-tahun berikutnya.

Bagi petani, manfaat ekonomi masih menjadi kunci. Menambal penghasilan yang hilang dari kelapa sawit yang mati dapat disiasati melalui sumber pendapatan yang lebih beragam. Di sisi lain, tanpa disadari keanekaragaman hayati di dalam kebun juga meningkat karena padupadan sawit dengan tanaman semusim dan tahunan, serta hewan ternak. Di tengah upaya mengurangi ekspansi lahan sawit, agroforestri sawit bukan mustahil dapat menjadi salah satu pilihan untuk mewujudkan sawit yang berkelanjutan.

CATEGORIES:

Artikel

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pencarian

Bagikan