Oleh: Sumilia
Perubahan iklim saat ini telah menimbulkan berbagai dampak yang merugikan pada sektor pertanian. Peristiwa cuaca ekstrem seperti kekeringan dan banjir, yang frekuensi dan intensitasnya bertambah seiring iklim berubah, menyebabkan gagal panen. Peningkatan suhu dan perubahan pola hujan meningkatkan potensi serangan hama, mengancam produktivitas dan kesuburan lahan. Dampak merugikan perubahan iklim juga dapat menjadi semakin parah akibat praktik-praktik pertanian eksisting yang tidak berkelanjutan.
Di Sulawesi Selatan, teknik budidaya pertanian yang lazim dilakukan oleh masyarakat pada umumnya adalah praktik pertanian yang tidak berkelanjutan sehingga memberikan sumbangsih terhadap terjadinya pemanasan global. Tutupan lahan yang sebelumnya didominasi oleh tanaman perkebunan seperti kakao, kemiri, dan kebun campur dialihfungsikan menjadi lahan jagung monokultur. Dalam proses perubahan tutupan lahan tersebut dibarengi dengan aktivitas/praktik yang tidak berkelanjutan yaitu dengan menebang hampir semua tegakan pohon dan melakukan tindakan pembakaran untuk proses pembersihan lahan.
Jagung menjadi komoditas unggulan yang dikelola oleh masyarakat secara monokultur di lahan yang sudah dibuka. Dalam proses budidayanya, petani menggunakan pupuk dan pestisida kimia untuk memacu pertumbuhan dan produksi. Penanaman jagung juga dilakukan di lahan miring tanpa ada upaya konservasi tanah, sehingga apabila praktik ini terus berlanjut maka akan menyebabkan penurunan kualitas lahan dan berkontribusi terhadap pemanasan global. Untuk mengurangi dampak yang merugikan terhadap usaha pertanian yang diakibatkan oleh perubahan iklim, maka perlu dilakukan strategi adaptasi dan mitigasi berupa praktik-praktik pertanian yang berkelanjutan dan berketahanan iklim. Di antara praktik tersebut adalah pertanian cerdas iklim dan agroforestri, yang diperkenalkan CIFOR-ICRAF ke Sulawesi Selatan melalui kegiatan riset-aksi Land4Lives.
Pertanian Cerdas Iklim

CIFOR-ICRAF Indonesia melalui kegiatan riset-aksi Land4lives, yang bekerja sama dengan Kanada, melakukan pendampingan terhadap kelompok tani melalui pendekatan pertanian cerdas iklim yang merupakan strategi terpadu untuk mengatasi dampak dan penyebab dari perubahan iklim. Pendekatan ini sangat perlu dilakukan di kelompok tani, mengingat pengelolaan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat pada saat ini berpotensi memperparah dampak perubahan iklim.
Dalam menjawab permasalahan terhadap praktik pertanian yang terjadi saat ini di desa dampingannya, CIFOR-ICRAF melakukan pendekatan kepada kelompok tani melalui pelatihan dan praktik pertanian cerdas iklim, salah satunya adalah pengembangan kebun agroforestri cerdas iklim secara partisipatif. Pengembangan kebun agroforestri dimulai dengan pemilihan komoditas tanaman prioritas di masing-masing desa.
Di Kecamatan Lappariaja, Dua Boccoe, Kahu dan Patimpeng pada umumnya memilih tanaman kakao sebagai komoditas utama dan tanaman buah-buahan seperti durian dan alpukat sebagai tanaman pelindung. Sementara di Kecamatan Bontocani, petani lebih memilih tanaman pala dan cengkeh sebagai tanaman utama dan tanaman buah-buahan sebagai tanaman pendamping. Hal ini dilakukan berdasarkan kesesuaian lahan dan potensi produksi dari setiap komoditas di wilayah tersebut.
Proses penanaman di kebun agroforestri dilakukan berdasarkan kondisi lahan. Untuk lahan dengan karakteristik miring, terlebih dahulu dibuatkan teras vegetasi alami sebagai upaya konservasi tanah agar tidak terjadi longsor pada saat musim hujan serta mempertahankan unsur hara tanaman.
Dalam kebun agroforestri, petani juga bisa mengusahakan penanaman tanaman jangka pendek seperti jagung, cabe, dan lain-lain di sela tanaman. Pelatihan pertanian cerdas iklim yang diberikan oleh CIFOR-ICRAF Indonesia kepada kelompok tani di Sulawesi Selatan jangka panjang, sehingga praktik ini memberikan manfaat secara ekonomi dan ekologi. Petani dapat menghasilkan pendapatan secara bertahap dan juga menjaga kelestarian lingkungan karena tidak perlu membakar lahan setiap akan melakukan penanaman. Bahkan serasah yang dihasilkan dari tanaman jangka panjang bisa menjadi sumber pupuk alami bagi tanaman yang ada dalam kebun.
Pengelolaan lahan dengan sistem agroforestri dapat mengurangi dampak pembukaan tutupan lahan oleh petani yang selama ini selalu memperluas pembukaan lahan untuk tanaman jagung, Sehingga dengan praktik ini petani bisa fokus mengelola satu unit lahan dengan keberagaman jenis tanaman di dalamnya.
Saat ini sudah banyak petani yang mulai menerapkan sistem agroforestri dalam mengelola kebunnya, terutama sistem agrofrestri berbasis kakao. CIFOR-ICRAF telah mengembangkan 20 kebun agroforestri di 20 kelompok belajar sebagai wadah bagi anggota kelompok untuk belajar dan mempraktikkan langsung berbagai inovasi teknologi yang berkaitan dengan sistem agroforestri.

Hasil nyata kelompok belajar agroforestri
Salah satu kebun agroforestri yang sudah berhasil adalah kebun belajar kelompok “Sayang Ibu” yang berlokasi di Desa Maggenrang. Kebun ini dimiliki oleh Pak Darwis dengan luas ±0,25 ha.
Kebun ditanam dengan mengombinasikan berbagai jenis tanaman, baik tanaman jangka panjang maupun tanaman semusim. Tanaman jangka panjang yang ditanam antara lain durian, pala, dan alpukat dengan jarak tanam 8×8 m serta kakao dengan jarak tanam 4×4 m yang dikombinasikan dengan tanaman semusim seperti cabe, terong, dan ubi jalar untuk mengoptimalkan penggunaan lahan sekaligus meningkatkan produktivitas lahan tersebut.
Dengan mengelola kebun menggunakan konsep agroforestri selama 6 bulan, Pak Darwis sudah mulai memperoleh pendapatan dari tanaman semusim (cabe dan terong) dan juga dari tanaman kakao berproduksi kembali. Berdasarkan wawancara langsung dengan Pak Darwis, beliau mengungkapkan bahwa cabe sudah dipanen 10 kali dan setiap kali panen memperoleh 10 kg dengan harga jual Rp20.000/ kg, sehingga total pendapatan yang beliau dapatkan dari panen cabe sebesar Rp2.000.000 dan dalam 2 bulan ke depan masih berlangsung panen dari tanaman cabe tersebut.

Pendapatan lainnya juga diperoleh dari panen terong dengan estimasi perolehan panen 5 kg setiap minggunya dan harga jual sebesar Rp10.000/kg. Sejauh ini beliau sudah memanen sebanyak 10 kali, dengan demikian pendapatan yang beliau dapatkan dari tanaman terong berkisar Rp500.000.
Tanaman kakao yang sudah mulai produktif kembali dalam 3 bulan terakhir juga memberikan pendapatan tambahan bagi Pak Darwis, di mana saat ini beliau bisa memanen 7 kg per bulan dengan harga jual Rp80.000/kg, dengan demikian total pendapatan dari kakao mencapai Rp1.680.000.
Penerapan sistem agroforestri dapat menjadi upaya dalam mengurangi dampak perubahan iklim, di mana dengan menanam beragam jenis tanaman baik yang tahan terhadap musim kemarau maupun musim hujan yang berkepanjangan, maka petani sudah melakukan upaya adaptasi terhadap perumahan iklim, disamping dengan adanya diversifikasi tanaman juga dapat memberikan alternatif pendapatan bagi petani.
Sistem agroforestri yang terdiri dari unsur pohon di dalamnya dapat menyerap emisi gas rumah kaca berupa CO2 sehingga dapat memitigasi dampak dari perubahan iklim. Selain itu dengan berkurangnya praktik pembakaran lahan dalam sistem agroforestri juga dapat menekan pelepasan emisi gas rumah kaca ke atmosfer.
Investasi untuk masa depan
Perubahan iklim yang semakin mengancam sektor pertanian, terutama di Sulawesi Selatan, menuntut adanya transformasi mendasar praktik pertanian yang selama ini dilakukan. Peralihan dari metode konvensional yang tidak berkelanjutan menuju praktik pertanian cerdas iklim dan agroforestri tidak sekadar solusi jangka pendek, tapi juga investasi penting untuk masa depan pertanian yang berkelanjutan.
Melalui inisiatif seperti Land4Lives yang digagas oleh CIFOR-ICRAF, kita berharap petani dapat mengadopsi teknikteknik ramah lingkungan yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga kelestarian lahan dan mengurangi dampak pemanasan global. Dengan komitmen bersama dari berbagai pihak, upaya adaptasi dan mitigasi ini dapat menjadi langkah konkret dalam membangun ketahanan pertanian terhadap perubahan iklim, sekaligus memastikan kesejahteraan masyarakat serta keberlanjutan lingkungan hidup.
No responses yet