Supaya nanas tak berakhir nahas. Mengoptimalkan budidaya buah-buahan di Sungai Asam dengan agroforestri

Oleh: Andre Prasetyo dan Erlangga

Selama lebih dari enam dekade, tanaman nanas menjadi primadona di Kabupaten Kubu Raya, menopang perekonomian para petani. Namun, petani masih dihadapkan pada persoalan klasik yang belum terselesaikan, yakni minimnya akses pengetahuan dan teknologi pengolahan pasca panen.

Saat musim panen raya nanas tiba di Kubu Raya, para petani di desa Sungai Asam menghadapi dilema. Di satu sisi, mereka gembira dengan hasil panen yang melimpah. Di sisi lain, melimpahnya pasokan nanas justru membuat harga anjlok, menekan pendapatan para petani yang bergantung pada penjualan buah segar.

Desa Sungai Asam adalah salah satu sentra produksi nanas varietas unggul di Kabupaten Kubu Raya, yaitu varietas Queen alias ratu raya. Varietas ini dikenal dengan daging buahnya yang renyah, rasa manis segar, dan kadar asam yang relatif rendah. Praktik budidaya nanas di Desa Sungai Asam sebagian besar masih dilakukan dengan sistem monokultur, yang memberikan produktivitas tinggi dalam jangka pendek namun punya beberapa kelemahan jangka panjang.

Produktivitas kebun nanas monokultur tinggi karena semua sumber daya – area lahan, nutrisi, air, dan tenaga kerja – difokuskan untuk memaksimalkan hasil panen nanas. Akan tetapi, lama-kelamaan terjadi degradasi kesuburan tanah akibat penggunaan lahan secara intensif tanpa rotasi tanaman atau diversifikasi jenis tanaman. Selain itu, monokultur rentan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman yang dapat menyebar dengan cepat pada area yang hanya ditanami satu jenis tanaman.

Dari aspek ekonomi, ketergantungan pada satu komoditas utama menjadikan para petani rentan terhadap fluktuasi harga pasar. Nanas yang dijual dalam bentuk buah segar juga tidak dapat disimpan dalam waktu lama. Jika tidak segera terjual, konsekuensinya kualitas akan menurun bahkan menjadi busuk sehingga merugikan petani. Tanpa strategi pengolahan pascapanen, petani akan terus dihadapkan pada risiko kerugian.

Dalam situasi ini, perlu ada upaya peningkatan nilai tambah nanas melalui berbagai produk olahan bernilai ekonomi tinggi, seperti nanas kering, selai, minum fermentasi nanas atau bahkan sirup. Dengan diversifikasi produk olahan nanas, para petani tidak hanya dapat memperpanjang masa simpan nanas, tetapi juga membuka akses ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar premium yang sering kali menawarkan harga lebih tinggi dan stabil.

Diversifikasi hasil panen dengan tanaman durian dan matoa

Praktik budidaya nanas di desa Sungai Asam sesungguhnya masih bisa dikembangkan menjadi lebih optimal, yaitu dengan transisi sistem monokultur menjadi agroforestri. Dengan mengintegrasikan tanaman buah-buahan lain di antara kebun nanas, petani tidak hanya meningkatkan diversifikasi hasil panen tetapi juga memperbaiki kualitas tanah, menciptakan keanekaragaman hayati, serta membuka peluang ekonomi baru. Pendekatan ini dapat menjadi solusi atas masalah yang dihadapi oleh petani nanas di Sungai Asam sekaligus membawa manfaat ekologis dan ekonomi yang berkelanjutan.

Foto 1 dan 2. Pelatihan pemanfaatan serat dari daun nanas di Desa Sungai Asam dan kebun agroforestri nanas dengan matoa dan durian di Desa Sungai Asam.

Dukungan program PeatIMPACTS oleh CIFOR-ICRAF Indonesia yang didanai oleh The German Federal Environment Ministry – The International Climate Initiative (BMU-IKI) dirancang untuk membantu petani meningkatkan keberlanjutan sistem pertanian mereka. Program ini berfokus pada kegiatan peningkatan kapasitas petani; mulai dari merancang model agroforestri berbasis buahbuahan, memberikan pelatihan untuk perbaikan budidaya, hingga pembangunan demo plot. Pendekatan partisipatif menjadi kunci dalam pelaksanaan program ini. Setiap tahap perencanaan program melibatkan petani, mulai dari menentukan jenis tanaman yang sesuai dengan nanas, perancangan desain kebun, hingga penyesuaian metode tanam dengan kondisi lahan setempat.

Para petani nanas di Sungai Asam yang terlibat dalam program memilih durian dan matoa sebagai tanaman pendamping nanas karena keduanya memiliki harga jual tinggi dan dapat tumbuh dengan baik pada lahan gambut fungsi budidaya, jenis lahan yang mendominasi di desa itu.

Sebagai perbandingan, dalam kondisi harga normal, petani nanas dengan sistem monokultur mampu menjual nanas segar di pasaran seharga Rp3.000Rp5.000 per buah – pendapatan mereka sangat bergantung pada naik turunnya harga nanas di pasar. Sementara, petani yang menerapkan agroforestri dengan durian dan matoa memiliki peluang untuk menjual durian dengan harga Rp15.000Rp30.000 per buah dan matoa seharga sekitar Rp30.000 per kilogram, sehingga memberikan tambahan pendapatan yang signifikan.

Diversifikasi ini memungkinkan petani untuk tidak sepenuhnya bergantung pada nanas dan tetap dapat memperoleh pendapatan tambahan dari durian dan matoa meskipun terjadi penurunan harga nanas. Dengan tambahan pendapatan dari tanaman yang bernilai ekonomi tinggi ini, petani memiliki ketahanan ekonomi yang lebih baik dibandingkan petani monokultur.

Menuju pertanian berkelanjutan melalui Good Agriculture Practice (GAP)
Foto 3 dan 4. Pelatihan penyiapan lahan tanpa bakar dan pembuatan pupuk organik dan pelatihan agroforestri, budidaya tanaman buah-buahan dan pembiakan vegetatif.

Program Peat-IMPACTS memanfaatkan pengetahuan saintifik untuk meningkatkan cara bertani yang baik (Good Agriculture Practice, GAP) di Sungai Asam. Peningkatan praktik ini dimulai dari penyiapan lahan tanpa bakar, pengurangan penggunaan pupuk kimia melalui pembuatan pupuk organik, hingga pengaturan jarak tanam yang efisien.

Metode pembersihan lahan tanpa bakar dilakukan meski membutuhkan waktu dan biaya lebih lama karena dilakukan secara manual. Meskipun sulit, petani didorong untuk menggunakan metode ini guna mencegah kerusakan lahan gambut dan emisi karbon, sehingga lebih ramah lingkungan. Dalam program peningkatan kapasitas petani ini, petani tidak hanya diajarkan cara membuat pupuk organik, tetapi juga diberikan pemahaman manfaat pupuk organik dalam jangka panjang. Pupuk organik yang berasal dari bahan yang banyak tersedia di desa, seperti limbah gedebok pisang dan limbah sayuran rumah tangga, tidak hanya mengurangi ketergantungan pupuk kimia tetapi juga membantu menyehatkan kondisi tanah.

Praktik pembiakan vegetatif juga menjadi fokus utama kegiatan. Teknik ini memungkinkan petani untuk memperbanyak tanaman secara cepat dan efisien sekaligus perbaikan kualitas tanaman, seperti pada durian dan matoa, sehingga petani dapat memiliki bibit berkualitas tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar.

Pengaturan jarak tanam yang baik tidak hanya memungkinkan hasil panen yang optimal, tetapi juga mengharmonisasikan fungsi antar tanaman. Pohon matoa, dengan daun rimbunnya, dirancang untuk ditanam di tengah kebun untuk memberikan naungan bagi nanas, sementara akarnya membantu mengikat struktur tanah dan mencegah erosi. Sementara itu, durian ditempatkan di bagian tepi lahan dengan jarak 10 meter dengan fungsi sampingan sebagai pembatas kebun. Kombinasi ini tidak hanya menguntungkan dari sisi penggunaan lahan, tetapi juga mendukung diversifikasi hasil panen, membuat petani memperoleh pendapatan dari penjualan komoditas nanas, matoa, dan durian.

Pembangunan demo plot agroforestri juga menjadi bagian penting dari upaya peningkatan kapasitas petani di Sungai Asam. Demo plot ini dirancang sebagai sarana pembelajaran bagi petani dalam menerapkan sistem agroforestri berbasis buah-buahan. Dengan adanya demo plot, petani dapat melihat dan merasakan secara langsung manfaat dari agroforestri sehingga diharapkan dapat meningkatkan tingkat adopsi yang masih rendah di desa tersebut. Seluruh tahap pembangunan demo plot, mulai dari perancangan desain, penentuan lokasi, hingga implementasi di lapangan, melibatkan petani dan pemerintah desa.

Foto 5. Rancangan agroforestri berbasis buah-buahan (durian-matoa-nanas)
Penanganan pasca panen agroforestri berbasis buah-buahan

Sebelum wabah Covid-19 melanda, petani di Desa Sungai Asam mendapatkan pelatihan dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) mengenai proses pengolahan nanas menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah. Serikat Perempuan Petani (SEPETA) yang beranggotakan para petani perempuan, menerima pelatihan cara mengolah nanas menjadi wajik, es krim, dodol, keripik, kerupuk, permen, nastar, selai, dan sirup. SEPETA juga mendapat pelatihan pemasaran seperti pembuatan label kemasan dan perizinan PIRT. Produkproduk tersebut secara mandiri dipasarkan oleh para anggota SEPETA melalui jaringan lokal dengan sistem promosi berantai maupun rekomendasi konsumen dan juga pemasaran melalui media pemasaran online. Sayangnya, kegiatan SEPETA mulai berhenti sejak adanya pandemi Covid-19.

Hal yang telah dilakukan tersebut menjadi langkah awal program Peat-IMPACTS untuk melanjutkan pendampingan. Petani di Desa Sungai Asam kembali mendapatkan pelatihan lanjutan pengolahan pascapanen mencakup pengolahan nanas menjadi selai, kue, dan sirup, serta pemanfaatan limbah daun nanas untuk menghasilkan serat benang. Berbekal keterampilan baru ini, petani diharapkan tidak lagi bergantung hanya pada penjualan buah nanas segar, tetapi juga dapat mengembangkan dan memasarkan produk olahan nanas untuk meningkatkan kemandirian ekonomi mereka.

Untuk memastikan keberlanjutan agroforestri berbasis tanaman buah-buahan di Desa Sungai Asam, dukungan dari berbagai pihak termasuk pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan pemangku kepentingan lainnya sangat dibutuhkan. Keberhasilan praktik ini tidak hanya akan memberikan manfaat bagi masyarakat lokal, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan ekosistem gambut secara keseluruhan.

Dengan kombinasi inovasi pengolahan pascapanen dan praktik agroforestri, Desa Sungai Asam dapat menunjukkan bahwa pertanian berkelanjutan dapat menjadi solusi menciptakan harmoni antara manusia dan alam, menjamin keberlanjutan sumber daya, serta membangun masa depan yang lebih lestari bagi generasi mendatang.

CATEGORIES:

Artikel

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pencarian

Bagikan