Small grant, big impact: Pendanaan inovatif untuk pemulihan lahan bekas terbakar di Sumatera Selatan

Small grant, big impact:
Pendanaan inovatif untuk pemulihan
lahan bekas terbakar di Sumatera Selatan


Memulihkan lahan bekas terbakar butuh duit yang tak sedikit. Kenyataan itulah yang dihadapi Kelompok Masyarakat Peduli Api (KMPA) Bromo Sakti ketika hendak mengembalikan lahan bekas kebakaran hebat di sebuah dusun di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan menjadi lahan yang produktif kembali. Siapa sangka, ternyata misi mereka bisa mendapatkan dukungan dari skema pendanaan nasional yang amat kompetitif.

Keberhasilan KMPA Bromo Sakti menjadi penerima manfaat Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan – FOLU Net Sink 2030 membuktikan bahwa komitmen dan kerja kolektif mampu mengangkat kapasitas kelompok di tingkat tapak menjadi aktor restorasi yang diperhitungkan secara nasional.

Melalui skema ini, mereka mendapat dana sebesar Rp30.000.000 untuk memulai pemulihan lahan seluas 2 hektare sebagai tahap awal melalui praktik agroforestri kopi liberika, mulai dari pengadaan bibit hingga peningkatan kapasitas kelompok. Proses panjang untuk mendapatkan pendanaan tersebut dimulai dari keberanian dan komitmen kolektif untuk memulihkan lahan bekas kebakaran yang terbengkalai sejak 2019. Lahan yang pernah menjadi kebun kopi liberika dan nanas itu dipenuhi semak-semak dan berisiko kembali terbakar.

Skema pendanaan FOLU Net Sink 2030 dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) memberi peluang. Didampingi CIFOR-ICRAF Indonesia melalui Land4lives yang didanai oleh Pemerintah Kanada, KMPA Bromo Sakti mengikuti rangkaian proses pendaftaran untuk mengakses kelembagaan.

Mengakses skema pendanaan

Rangkaian tersebut dimulai dengan registrasi kelembagaan ke dalam sistem LDM BPDLH untuk memastikan legalitas dan struktur organisasi. Tahap selanjutnya ialah pengumpulan gagasan program yang relevan dengan tujuan FOLU Net Sink, yaitu restorasi, pengurangan risiko kebakaran, dan peningkatan tutupan vegetasi. Terakhir, penyusunan proposal yang mencakup rencana teknis, target pemulihan, indikator capaian, rencana anggaran dan kesiapan kelembagaan dalam mengelola dana setelah pencairan.

Sepanjang proses ini, CIFOR-ICRAF Indonesia memberikan pendampingan dalam bentuk tiga kegiatan. Pertama, pelatihan manajemen bisnis dan penyusunan rencana usaha pengembangan kopi liberika sebagai komoditas agroforestri. Kedua, pendampingan dalam penyusunan proposal, mulai dari mengidentifikasi masalah hingga memastikan proposal sesuai standar teknis pendanaan. Ketiga, pengenalan strategi akses pembiayaan inovatif sehingga KMPA tidak hanya memahami aspek teknis, tetapi juga mampu membaca peluang pendanaan. Kegiatan-kegiatan ini membantu kelompok memahami cara mengelola bisnis kopi secara berkelanjutan.

“Saya yang sebelumnya tidak tahu apa-apa tentang bisnis kopi, sekarang bisa menyusun proposal dan merencanakan usaha. Anak-anak muda di sini jadi lebih positif kegiatannya” ujar Alex, anggota KMPA Bromo Sakti.

Pengalaman dan rekam jejak KMPA Bromo Sakti sebagai garda terdepan pencegahan kebakaran menjadi modal teknis yang kuat sekaligus menunjukkan kedekatan dengan kondisi lanskap. Walaupun tanaman kopi liberika dan nanas pernah hangus terbakar, KMPA Bromo Sakti sudah mengenal dan menerapkan prinsip agroforestri, sehingga rencana restorasi lahan pasca kebakaran ini relevan dan realistis.

Kekuatan lainnya juga terdapat pada kelembagaan internal KMPA Bromo Sakti. Pembagian peran yang jelas, komitmen terhadap transparansi anggaran, serta kesiapan melakukan pertanggung jawaban menjadi nilai tambah yang membuat kelompok mereka lebih kompetitif.

Memilih agroforestri

Pemulihan lahan pascakebakaran bukan hanya soal menanam kembali. Tantangannya adalah memastikan lahan kembali produktif, aman dari kebakaran, serta memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat. Praktik yang cocok untuk tujuan tersebut adalah agroforestri. Setelah diskusi bersama CIFOR-ICRAF serta mempertimbangkan kondisi lahan, agroforestri kopi liberika muncul sebagai pilihan strategis karena dapat meningkatkan kelembapan gambut dan menurunkan risiko kebakaran.

Lebih dari itu, praktik ini akan menambah tutupan vegetasi, meningkatkan serapan karbon, serta memperkuat ketahanan lanskap terhadap peristiwa iklim. Pengalaman KMPA Bromo Sakti dalam mengelola lahan dengan prinsip agroforestri juga memperkuat sistem yang terencana dan adaptif untuk lahan gambut.

Dengan dana yang diterima dari BPDLH, KMPA Bromo Sakti melakukan pembelian bibit kopi dan melaksanakan pelatihan agroforestri kopi bersama Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, UPTD KPH Lalan Mendis, dan CIFOR-ICRAF . Materi pelatihan meliputi pembibitan, penanaman, hingga penyusunan Business Model Canvas secara partisipatif. Proses dilanjutkan dengan visitasi lokasi dan penyusunan rencana tindak lanjut.

KMPA Bromo Sakti membuktikan bahwa pendanaan inovatif lebih dari sekadar bantuan finansial – ia menghubungkan komitmen masyarakat dengan kapasitas untuk bertindak. Transformasi mereka menjadi pemulih lanskap menunjukkan potensi pendanaan inovatif untuk menggerakkan restorasi berbasis masyarakat. Ini berarti keberhasilan kelompok ini dalam mengakses skema FOLU Net Sink 2030 bukan hanya kemenangan individual, tetapi juga preseden bagi kelompok masyarakat lain yang menghadapi tantangan serupa.

Skema seperti FOLU Net Sink 2030 memberikan alternatif pembiayaan bagi komunitas lokal dalam melaksanakan kegiatan lingkungan. Dengan model pendanaan yang membuka akses bagi aktor tapak dan memperkuat kapasitas mereka, Indonesia berpeluang melipatgandakan upaya restorasi—tidak hanya melalui proyek-proyek besar yang sentralistik, tetapi juga melalui inisiatif kolektif yang tumbuh dari bawah.

CATEGORIES:

Artikel

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *