Oleh: Yesi Lismawati dan Iskak Nungky Ismawan
Tidak ada yang tidak mungkin selagi ada upaya. Tampaknya pepatah ini berlaku bagi kelompok perempuan di Desa Mangsang, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Upaya mengatasi situasi kerentanan ekonomi rumah tangga yang diawali dengan arisan simpan pinjam, berkembang menjadi kelompok usaha pertanian dengan nama KWT Sejahtera.
Kelompok usaha ini kemudian diperkuat melalui strategi pengembangan bisnis untuk mendorong keberlanjutan usaha, optimalisasi sumber daya, dan kemitraan strategis. Sekarang telah menjadi lembaga yang lebih solid dan memiliki struktur organisasi, mereka mengembangkan potensi usaha tani nanas di Kabupaten Musi Banyuasin.
Berawal dari arisan
Pada 2014, sekelompok ibu-ibu di Desa Mangsang duduk santai di teras rumah ibu Sri Widiarti sembari berkeluh kesah tentang masalah yang mereka hadapi sehari-hari. Keresahan yang mengemuka ialah bagaimana cara untuk memperoleh pemasukan tambahan dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dan keterbatasan dari aspek kesuburan lahan yang menyebabkan gagal panen. Salah satu ibu mengusulkan untuk membuat arisan, dengan maksud menyediakan simpanan dan untuk berjaga-jaga bila terjadi gangguan pada kondisi keuangan rumah tangga.
Singkat cerita, sekitar 25 orang perempuan bersepakat untuk memulai arisan simpan pinjam. Mereka mengumpulkan iuran kas pertama/administrasi awal sebesar Rp50.000 per orang yang digunakan sebagai modal uang kas simpan pinjam. Iuran ini berlaku untuk setiap anggota baru yang ikut bergabung dalam kelompok. Sistem peminjaman dan pengembalian dilakukan dengan periode 1 tahun, atau dari lebaran sampai lebaran tahun berikutnya. Selain itu, kegiatan arisan yang dilakukan oleh kelompok menggunakan sistem pembongkaran uang kas atau pos undian giliran per anggota dengan setiap bulan. Dengan jumlah anggota 25 orang, butuh lebih dari dua tahun sampai semua orang dapat giliran.
Membentuk kelompok usaha

Seiring berjalannya waktu, muncul ide baru lagi untuk melakukan pembentukan kelompok usaha. Hal ini muncul seiring dengan adanya tawaran program pertanian dari Gapoktan yang mengharuskan warga desa membentuk kelompok baru jika ingin tergabung dalam program tersebut. Kelompok perempuan di Desa Mangsang merasa mempunyai bekal untuk bisa tergabung dalam program tersebut. Akhirnya mereka membentuk kelompok usaha sayuran dan budidaya singkong. Kegiatan ini berjalan bahkan sampai tahap pemasaran.
Upaya kelompok dalam kegiatan ini dipandang sebagai kesempatan yang bisa membantu meningkatkan pengetahuan dan mempercepat keberhasilan kelompok dalam membangun usaha bersama. Lambat laun, kelompok difasilitasi gapoktan sampai memperoleh sertifikat registrasi kelompok bernama Kelompok Wanita Tani (KWT) Sejahtera dengan usaha utama simpan pinjam dan usaha sampingannya berupa kegiatan usaha di bidang sayuran dan budidaya singkong.
Tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas, usaha simpan pinjam dan kegiatan arisan mampu bertahan selama 10 tahun. Namun, sayangnya hal yang sama tidak berlaku untuk usaha budidaya sayuran dan singkong. Kendala yang dihadapi oleh kelompok seperti kerentanan gagal panen pada usaha budidaya sayuran, dan ketidakonsistenan partisipasi anggota kelompok dalam mengembangkan usaha budidaya dan pemasaran singkong membuat usaha kelompok tersebut vakum dan terancam tidak berlanjut.

Hal ini karena beberapa anggota sibuk bekerja sebagai buruh di perkebunan sawit milik perusahaan. Masalah ini juga menunjukkan bahwa meskipun kelompok pernah melakukan pemasaran komoditi sayuran dan singkong, mereka belum memiliki strategi pengembangan kegiatan kelompok yang dapat meningkatkan partisipasi aktif kembali dari anggota. Semua faktor tersebut menghambat kemajuan usaha kelompok.
“Sudah mencoba usahatani sayuran tapi ternyata lahannya kurang subur, jadi sudah 10 tahun ini tetap bertahan di simpan pinjam dan arisan, anggota sepertinya sudah pada bosan”, ungkap Sri Widiarti, seorang anggota KWT Sejahtera.
Menurut Ibu Sri, demikian dia biasa dipanggil, para anggota KWT Sejahtera merasa bahwa kelompok mereka perlu bertransformasi. Mereka tidak ingin KWT Sejahtera sekadar menjalankan usaha simpan pinjam dan arisan, tapi juga memiliki program usahatani berbasis komoditas potensial di desa. Langkah ini mereka yakini dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan anggota.
Transformasi KWT Sejahtera
Salah satu upaya dalam meningkatkan kesejahteraan petani adalah dengan memperhatikan aspek kelembagaan petani. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 67/2016, upaya untuk memperkuat posisi petani dalam berbagai aspek termasuk usaha taninya dapat ditinjau dari strategi kelembagaan petani. Kelembagaan petani mencakup kelompok tani, gabungan kelompok tani, asosiasi komoditas pertanian, hingga dewan komoditas nasional. Lembaga ini dibentuk oleh, dari, dan untuk petani.
Beberapa elemen utama dalam kelembagaan petani pada KWT Sejahtera yang harus diperhatikan, antara lain struktur organisasi, jaringan usaha, mitra usaha, serta aktivitas usaha tani dari hulu hingga hilir. Memang, struktur kepengurusan inti pada kelompok sudah terbentuk namun struktur organisasi ini masih tergolong sederhana.
Selain itu, kesuburan tanah yang menjadi kendala dalam usaha sayuran dan kurangnya partisipasi anggota dalam pengembangan usaha singkong menggambarkan pentingnya pengetahuan terhadap aspek hulu hingga hilirisasi pada usaha tani kelompok. Peningkatan kapasitas dan pendampingan kelompok terhadap pengetahuan budidaya, pembiayaan, pemasaran, akses pasar, kelembagaan dan kepemimpinan dapat membantu pengembangan usaha kelompok ke depannya. Tidak hanya itu, identifikasi komoditi potensial di desa juga menjadi strategi yang dapat dikembangkan.
Semua komponen ini harus dijalankan dengan prinsip agribisnis yang berkelanjutan, sehingga dapat mendukung sistem usahatani yang lebih baik dan lebih siap dalam menghadapi tantangan serta mampu memanfaatkan peluang yang ada.
Bekerja bersama CIFOR-ICRAF

CIFOR-ICRAF Indonesia melalui kegiatan riset-aksi Land4Lives, yang bekerja sama dengan Kanada, menyelenggarakan pelatihan pengembangan bisnis yang bertujuan mentransformasi kelompok tani yang ingin belajar berbisnis menjadi kelompok usaha berbasis agroforestri. Salah satu sasaran dari kegiatan ini adalah pelaku usaha mikro yang punya potensi untuk mengelola usaha berbasis agroforestri. Beberapa kegiatan yang didorong CIFORICRAF Indonesia yakni pembuatan rencana usaha, sebagai peta jalan yang merangkum strategi, langkah, dan tujuan yang disusun bersama untuk memulai dan mengembangkan usaha.
Alat yang digunakan adalah Business Model Canvas (BMC), yang terdiri dari 9 elemen utama: Customer Segments, Value Proposition, Channels, Customer Relationships, Revenue Streams, Key Resources, Key Activities, Key Partnerships, dan Cost Structure. Melalui penerapan BMC, KWT Sejahtera berhasil mentransformasi budidaya nanas yang awalnya bersifat subsisten menjadi usaha agribisnis yang lebih produktif, dengan peta pengembangan dari hulu hingga hilir.
Buah nanas dipilih karena mudah beradaptasi dan dapat tumbuh dengan baik di lokasi desa. Nanas di Desa Mangsang termasuk produk pertanian yang mudah dipasarkan dengan harga ratarata per butir Rp8.000 sampai Rp15.000, selain itu daya simpan buah nanas berkisar 5-10 hari dalam suhu ruang. Mereka juga belajar cara penanganan baik (Good Handling Practices, GHP) hasil panen dalam rangka menjaga keamanan pangan, kualitas produk, dan efisiensi distribusi.
Setelah mengidentifikasi komoditas yang akan dikembangkan, KWT Sejahtera berupaya meningkatkan kapasitas kelembagaan mereka melalui pelatihan manajemen bisnis, kepemimpinan, dan organisasi. Dalam pelatihan itu, para perempuan belajar membuat visi-misi, struktur organisasi, AD/ ART, mekanisme pengambilan keputusan, dan belajar mengelola konflik. Simulasi kelayakan usaha dilakukan dengan menganalisis biaya, pemasukan, dan arus kas. Selain itu, mereka belajar menyusun profil kelompok usaha untuk menarik dukungan dari mitra strategis.
KWT Sejahtera mendapatkan banyak manfaat dari kegiatankegiatan Land4Lives, kata Ibu Sri. Mereka terutama sangat terbantu dengan pelatihan cara mengembangkan rencana usaha yang baik; pelatihan seperti itu belum pernah mereka dapatkan. “Adanya CIFOR-ICRAF, serasa pucuk dicinta ulam pun tiba, ilmu yang kami peroleh ke depannya bisa sangat membantu kami dalam menyusun strategi dan harapannya dapat memberikan hasil usaha yang memuaskan”, kata Ibu Sri.
Proses pengembangan bisnis yang diikuti KWT Sejahtera mendorong keberlanjutan usaha, optimalisasi sumber daya, dan kemitraan strategis. Proses ini telah mentransformasi KWT Sejahtera menjadi organisasi usaha tani yang proper serta meningkatkan mutu komoditas nanas mereka melalui penerapan GAP dan GHP.
Para anggota KWT Sejahtera berencana mengembangkan produk nanas menjadi beberapa produk turunan, misalnya selai nanas, di masa depan. Saat ini, mereka berharap kelompok mereka dapat membantu menyejahterakan keluarga sekaligus mendorong peran Perempuan dalam pertanian.
No responses yet